![]() |
| Direktur Utama BRI, Hery Gunardi |
Jakarta -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terus memperkuat fundamental bisnisnya dengan fokus memperbaiki struktur pendanaan. Strategi ini menjadi bagian penting dalam menjaga kinerja perseroan tetap solid di tengah dinamika industri perbankan. Sepanjang tahun 2025, upaya tersebut terbukti mampu meningkatkan porsi dana murah atau current account savings account (CASA) sekaligus menekan biaya dana atau cost of fund (CoF).
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa inti dari bisnis perbankan adalah kemampuan menghimpun dana dari masyarakat. Menurutnya, keberhasilan sebuah bank sangat ditentukan oleh kekuatan pada sisi pendanaan. Oleh karena itu, BRI menargetkan pembangunan funding franchise yang kuat guna menopang pertumbuhan bisnis jangka panjang.
“Jadi banking itu adalah funding game. Jadi apa yang kita mau bangun di BRI itu adalah bagaimana kita membangun funding franchise yang kuat. Intinya kita ingin memperbaiki struktur pendanaan kita,” ujar Hery dalam konferensi pers paparan kinerja keuangan 2025 pada Kamis (26/2/2026).
Secara kinerja, BRI mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang cukup positif. Sepanjang 2025, total DPK secara konsolidasi meningkat 7,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi sekitar Rp1.466,84 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan pada dana berbasis ritel dan non-wholesale.
Giro tercatat tumbuh signifikan sebesar 19,7 persen yoy, sementara tabungan meningkat 7,9 persen yoy. Kinerja ini mencerminkan semakin kuatnya struktur pendanaan BRI yang didominasi oleh dana murah, sehingga memberikan ruang yang lebih besar bagi perseroan untuk menjaga efisiensi biaya dana.
Seiring dengan pertumbuhan tersebut, rasio CASA BRI pada 2025 juga mengalami peningkatan menjadi 70,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 67,3 persen. Peningkatan rasio ini menjadi indikator keberhasilan strategi BRI dalam memperbesar porsi dana murah.
Hery mengungkapkan bahwa tren ini merupakan perkembangan yang sangat positif bagi BRI. Ia menilai posisi tabungan BRI yang sebelumnya tertinggal dari sejumlah pesaing kini semakin mendekati, bahkan ditargetkan bisa menjadi yang terdepan di industri perbankan nasional.
“Tren ini sangat positif, tadinya tabungan BRI jauh di bawah pesaing. Sekarang dengan pesaing utama saya jaraknya sudah makin tipis, jadi kita ingin leading tentunya butuh effort,” jelasnya.
Lebih lanjut, peningkatan porsi dana murah turut berdampak pada penurunan biaya dana BRI. Pada akhir 2025, CoF BRI tercatat turun menjadi 2,9 persen dari sebelumnya 3,2 persen pada tahun 2024, menunjukkan efisiensi pendanaan yang semakin baik.
Di sisi lain, Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto menyampaikan bahwa pertumbuhan dana murah juga didorong oleh optimalisasi kanal digital yang semakin kuat. Aplikasi BRImo misalnya, mencatat lonjakan pengguna aktif sebesar 18,9 persen yoy menjadi 45,9 juta pengguna pada Desember 2025, dengan nilai transaksi mencapai Rp7.076,9 triliun atau tumbuh 26,4 persen yoy.
Selain itu, platform Qlola yang menyasar segmen nasabah menengah, komersial, dan korporasi juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Jumlah pengguna aktif meningkat 48,1 persen yoy menjadi 113.000 pengguna, sementara volume transaksi naik 36,2 persen yoy menjadi Rp13.456 triliun.
Dari sisi ekosistem pembayaran, aktivitas merchant melalui BRI turut mengalami peningkatan pesat. Volume penjualan merchant tercatat tumbuh 48,1 persen yoy menjadi Rp223,2 triliun. Sementara transaksi QRIS BRI juga melonjak signifikan dengan volume penjualan naik 100 persen yoy menjadi Rp85,6 triliun, serta jumlah transaksi meningkat 127,5 persen yoy menjadi lebih dari 782,8 miliar transaksi.
Aquarius menegaskan bahwa capaian tersebut menunjukkan keberhasilan transformasi digital BRI dalam memperkuat basis dana murah sekaligus memperluas ekosistem pembayaran digital yang inklusif bagi masyarakat di berbagai lapisan.
Laporan: Tim Britanews.my.id
Editor: Redaksi

0 Komentar